Goresan.id–Jika pohon pala bisa menangis, maka di Pulau Makian Halmahera Selatan hari ini tangisnya sudah pecah. Sudah lima bulan, bukan lima hari, langit di atas Makian seolah lupa cara menurunkan hujan
Matahari datang setiap pagi bukan membawa harapan, tapi membawa kematian. Perlahan satu per satu pohon pala adalah pohon kehidupan warga Makian mulai mengering, meranggas, dan mati berdiri.
Daunnya yang dulu hijau dan rimbun, kini coklat, rapuh, dan gugur tertiup angin panas. Pemandangan yang memilukan, di kebun-kebun yang dulu menjadi sumber tawa dan kehidupan, kini hanya terdengar isak tangis petani yang tak berdaya.

Yaman, petani dari Desa Dauri, Pulau Makian, mengungkapkan bahwa kemarau panjang di Halmahera Selatan kini telah memasuki bulan kelima.
”Banyak tanaman tahunan termasuk pohon pala mulai mengering dan mati akibat kekurangan air serta teriknya sinar matahari sudah hampir 5 bulan berjalan” Ungkap Yaman
Kata Yaman, ia bersama sejumlah petani di Desa tersebut terpaksa menerapkan cara tradisional sebagai alternatif terakhir untuk melindungi kebun pala mereka.
Mereka menggunakan batang pisang sebagai alternatif terakhir untuk menjaga kelembapan akar pohon pala dari sengatan panas matahari.
”Batang pisang yang diletakkan di sekitar pangkal pohon berfungsi menahan kelembapan tanah, mengurangi penguapan air akibat terik matahari, serta melindungi akar dari suhu tanah yang terlalu panas” Ujar Yaman. Kamis, (8/10/2026).
Para petani setempat menyebut langkah ini sebagai salah satu cara terbaik saat ini untuk menjaga kelangsungan hidup pohon pala di tengah kemarau panjang.
Dengan tangan kasarnya, ia membelah batang pisang berair meletakkannya di sekeliling akar pala. Memeluk dan melindunginya dari sengatan panas.
”Pala adalah kehidupan kami di tanah Makian. Kalau pala mati, kami mau makan apa? Demi kebutuhan anak-anak kami dan keluarga kami, kami akan jaga sampai titik air terakhir,” sebut Yaman dengan tangis.
Belum ada bantuan khusus dari pihak terkait untuk penanganan kekeringan di kebun‑kebun pala khususnya di Pulau Makian, sehingga petani harus mengandalkan pengetahuan tradisional dan tenaga sendiri.
Warga berharap pemerintah dan dinas pertanian segera turun tangan agar memberikan bantuan teknis dan alat penyiraman guna menyelamatkan kebun pala warga.
”Semoga pemerintah dan dinas terkait dapat menyentuh langsung berikan bantuan teknis guna menyelamatkan pala kami di Pulau Makian dan para petani pala lainnya di Maluku Utara pada umumnya” Imbuhnya. (*)






