Goresan.id— Persoalan pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, kembali menjadi sorotan. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Pasifik (Unipas) Morotai menggelar dialog publik

Dalam dialog tersebut membedah berbagai persoalan mulai dari pendidikan yang termasuk isue mengenai ribuan anak yang disebut kehilangan akses pendidikan.

‎Dialog publik bertajuk “Ribuan Anak Kehilangan Masa Depan, Pendidikan untuk Siapa?” tersebut berlangsung di BUMDes Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Sabtu 19 September 2026.

‎Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulau Morotai Rusdi Yaman, S.Ag., MM, Kabid GTK Ali Gafur, S.G., Anggota DPRD Kabupaten Pulau Morotai M. Akbar Mangoda, Dekan FKIP Unipas Morotai, Dekan FISIPOL Unipas Morotai Citriana Kanyia, serta sejumlah pimpinan BEM fakultas dan organisasi ekstra mahasiswa.

‎Ketua BEM FISIPOL Unipas Morotai, Citriana Kanyia, mengatakan dirinya mengapresiasi kehadiran berbagai elemen dalam forum tersebut. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak menunjukkan masih adanya kepedulian terhadap masa depan generasi muda di Morotai.

‎“Saya sangat merasa bangga. Itu artinya kita masih memiliki hati nurani guna melihat generasi penerus bangsa,” kata Citriana.

‎Ia menjelaskan, dialog tersebut digelar untuk menemukenali sekaligus mendudukkan berbagai persoalan pendidikan yang terjadi di Kabupaten Pulau Morotai.

‎Menurut Citriana, berdasarkan data dan catatan investigasi dari berbagai elemen, masih terdapat sejumlah persoalan pendidikan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

‎Salah satu isu yang menjadi perhatian BEM FISIPOL adalah informasi mengenai ribuan anak yang disebut putus sekolah. Isu tersebut kemudian diangkat dalam tema dialog melalui pertanyaan, “Ribuan anak kehilangan masa depan, pendidikan untuk siapa?”

‎Citriana menegaskan, BEM FISIPOL memosisikan diri sebagai kelompok kritis yang berupaya menghadirkan pihak-pihak strategis untuk membicarakan persoalan pendidikan secara terbuka, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan di daerah.

‎“Kami ingin mempercakapkan sekaligus memberikan jalan tengah terhadap problem pendidikan yang terjadi dewasa ini di Pulau Morotai,” ujarnya.

‎BEM Pastikan Kawal Persoalan Pendidikan

‎Citriana mengatakan, dialog tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi semata. BEM FISIPOL, kata dia, akan menjadikan hasil dialog sebagai bahan aspirasi sekaligus dasar untuk mengawal berbagai persoalan publik di Kabupaten Pulau Morotai.

‎Ia menilai kehadiran DPRD dan Dinas Pendidikan dalam forum tersebut menjadi penting karena persoalan yang dibahas berkaitan langsung dengan kebijakan serta penyelenggaraan pendidikan di daerah.

‎“Yang hadir pada malam ini ada dari DPRD Kabupaten Pulau Morotai dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pulau Morotai. Nantinya kita akan terus mengawal masalah yang ada di Kabupaten Pulau Morotai, selain dari masalah pendidikan,” katanya.

‎Menurutnya, fungsi kontrol mahasiswa tidak hanya diarahkan pada sektor pendidikan. BEM FISIPOL juga akan mencermati berbagai persoalan publik lainnya yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah daerah.

‎Siapkan Ultimatum untuk Pemda

‎Lebih lanjut, Citriana menyampaikan bahwa BEM FISIPOL akan memberikan ultimatum kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai agar lebih serius menangani berbagai persoalan yang terjadi di daerah tersebut.

‎Ia menegaskan, mahasiswa akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah, termasuk memastikan persoalan pendidikan tidak berhenti pada pembahasan di ruang-ruang diskusi.

‎“Bila anak muda mati rasa, maka matilah sebuah bangsa,” tegasnya.

‎Pernyataan tersebut menjadi penegasan sikap BEM FISIPOL Unipas Morotai untuk terus mengawal persoalan pendidikan serta berbagai isu publik lainnya di Kabupaten Pulau Morotai. (*)