Goresan.id–Di tengah paniknya keluarga mencari pertolongan medis, persoalan karcis parkir justru menjadi beban tambahan.
Tarif parkir di RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate kembali dikeluhkan warga dan keluarga pasien karena dinilai memberatkan(1/10/2026).
Sejumlah warga mengeluhkan tarif parkir di rumah sakit tersebut. Mereka menilai biaya keluar-masuk kendaraan membebani keluarga pasien berpenghasilan rendah yang harus sering datang ke rumah sakit.
Tarif parkir sepeda motor ditetapkan sebesar Rp2.000 untuk satu jam pertama, dengan tambahan Rp1.000 per jam berikutnya. Namun, dalam kondisi tertentu, tarif maksimal dapat mencapai Rp5.000.
Bagi sebagian masyarakat, nominal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, bagi keluarga yang sedang menghadapi biaya pengobatan dan harus bolak-balik mendampingi pasien, setiap rupiah dinilai memiliki arti.
“Kami sudah susah karena keluarga masuk rumah sakit dan belum tentu punya biaya. Jangan lagi ditambah beban dengan karcis seperti ini,” keluh seorang warga.
Keluhan semakin tajam karena warga mengaku harus kembali membayar ketika keluar dan masuk lagi, meski hanya berada di luar rumah sakit dalam waktu singkat.
“Kadang baru dua menit keluar, sudah bayar lagi. Masuk kembali bayar lagi, keluar bayar lagi. Kalau berkali-kali seperti itu, kami yang sudah susah semakin terbebani. Kasihan masyarakat yang keluarganya sedang sakit,” ujarnya.
Menurut warga, persoalan tersebut bukan semata soal nominal karcis. Mereka mempertanyakan rasa kemanusiaan dan kebijakan yang semestinya diberikan kepada masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat keluarga.
“Kami bukan tidak mau bayar. Tetapi ketika keluarga sakit, biaya pengobatan dan kebutuhan lainnya sudah berat. Jangan sampai biaya parkir yang berulang justru menambah kesusahan,” tegasnya.
Masyarakat pun meminta Pemerintah Provinsi Maluku Utara segera turun tangan dan mengevaluasi kebijakan parkir di lingkungan RSUD dr. Chasan Boesoirie.
Mereka berharap ada kebijakan khusus, termasuk kemungkinan penggratisan parkir bagi keluarga pasien atau mekanisme lain yang tidak memberatkan masyarakat.
“Rumah sakit itu tempat masyarakat mencari pertolongan ketika sedang susah. Jangan sampai orang datang karena keluarganya sakit, tetapi justru merasa semakin terbebani ketika berada di sana,” katanya.
Warga juga meminta Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda dan Walikota Ternate, M Tauhid Soleman memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut.
Mereka berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan dari meja kerja, tetapi melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan.
“Kami minta Ibu Gubernur dan Walikota turun melihat langsung. Kalau memang kebijakan ini memberatkan masyarakat, tolong dievaluasi. Kami berharap ada keberpihakan kepada keluarga pasien yang sedang dalam kesulitan,” imbuhnya.
Masyarakat juga mendorong pihak berwenang untuk memastikan dasar hukum, mekanisme pengelolaan, serta besaran tarif parkir di RSUD dr. Chasan Boesoirie disampaikan secara transparan kepada publik.
Sebab, bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar tentang Rp2.000 atau Rp5.000. Ini tentang bagaimana sebuah kebijakan di rumah sakit dapat tetap menghadirkan rasa kemanusiaan kepada masyarakat yang datang ketika sedang berada dalam kondisi paling membutuhkan pertolongan. (*)






