GORESAN.ID — Fenomena perubahan warna air laut di pesisir Desa Jikotamo, Dermaga Jojame, dan Anggai, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan terus menjadi perhatian masyarakat.

Kondisi itu kemudian meluas hingga perairan Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara. Warga menyebut gejala tersebut telah berlangsung sekitar sepekan dan mulai berdampak terhadap aktivitas budidaya ikan, setelah sejumlah ikan ditemukan mati di beberapa lokasi.

Menanggapi hal itu, Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Prof. Muhammad Aris, mengatakan gejala tersebut lebih mengarah pada fenomena alam yang dipicu kondisi musim kemarau, bukan serta-merta akibat aktivitas industri pertambangan.

Menurutnya, jika sumber pencemaran berasal langsung dari kawasan industri tambang di wilayah selatan Pulau Obi, maka penyebarannya cenderung mengikuti arah perairan di sekitar lokasi tambang. Namun, perubahan warna air lebih dominan terlihat di wilayah utara.

“Kalau dikaitkan langsung dengan aktivitas industri tambang, secara lokasi kurang tepat karena kawasan tambang berada di arah selatan, sedangkan fenomena ini berkembang di wilayah utara,” Beber Prof. Aris.

Ia menjelaskan, musim kemarau yang disertai kenaikan suhu perairan sekitar dua derajat Celsius dapat memicu blooming fitoplankton. Setelah mencapai puncak pertumbuhan, plankton itu akan mati secara massal dan memengaruhi kualitas air.

Proses pembusukan plankton menghabiskan oksigen terlarut di dalam air (anoksia) serta menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Kondisi inilah menyebabkan air berubah menjadi hijau pekat, bau busuk, serta mengakibatkan kematian ikan.

“Ketika plankton mati dalam jumlah besar, kandungan bahan organik meningkat. Proses penguraiannya menghabiskan oksigen sehingga ikan kekurangan oksigen dan muncul gas beracun yang menimbulkan bau menyengat,” Terangnya.

Prof. Aris mengaku beberapa bulan lalu pernah melakukan pengamatan kualitas perairan di wilayah Obi Selatan. Saat itu belum ditemukan indikasi pencemaran maupun penurunan kualitas air.

Fenomena perubahan warna air laut di pesisir Desa Jikotamo, Dermaga Jojame, dan Anggai, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan.
Fenomena perubahan warna air laut di pesisir Desa Jikotamo, Dermaga Jojame, dan Anggai, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan.

Ia menuturkan, apabila pencemaran berasal dari logam berat akibat aktivitas tambang tentu karakteristiknya berbeda. Logam berat pada umumnya mengendap di dasar perairan dan tidak serta-merta menyebabkan perubahan warna air menjadi hijau pekat seperti terjadi saat ledakan plankton.

Selain faktor alam, Prof. Aris menyoroti lemahnya pembinaan budidaya perikanan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara. Bagi Prof. Aris, selama ini sektor budidaya belum mendapat perhatian memadai, baik melalui pelatihan teknis maupun mitigasi menghadapi perubahan kualitas lingkungan.

“Perhatian DKP Provinsi hanya terpusat pada perikanan tangkap. Budidaya ikan terus terpinggirkan, padahal masyarakat Obi membutuhkan pembinaan dan pelatihan untuk menghadapi perubahan lingkungan perairan,” Tegas Prof. Aris.

Ia menekankan, pentingnya penerapan teknik budidaya secara benar. Penempatan keramba atau media pemeliharaan ikan di lokasi dengan sirkulasi air yang buruk, termasuk terlalu dekat dengan permukiman, dapat mempercepat penumpukan bahan organik dan memperparah penurunan kualitas air saat musim kemarau.

“DKP Provinsi harus mengoptimalkan potensi perairan untuk budidaya ikan. Pembudidaya juga perlu dibekali pelatihan, pendampingan, dan mitigasi agar mampu memilih lokasi yang layak serta menghadapi perubahan kualitas perairan,” Imbuh Prof. Aris. (*)