Pekanbaru, Goresan.id — Kelahiran anak gajah Sumatera bernama Nona Seroja di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, bukan sekadar kabar bahagia dari dunia konservasi. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa harapan terhadap kelestarian alam masih tumbuh, bahkan di tengah berbagai tantangan kerusakan lingkungan dan tekanan terhadap habitat satwa liar.
Nama Nona Seroja diberikan oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, atau yang akrab disapa Herymen, untuk anak gajah yang lahir dari indukan bernama Ria di Camp Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo. Dalam pemberitaan detikcom, Herymen menjelaskan bahwa “Seroja” memiliki makna mendalam, yakni bunga yang tumbuh dari lingkungan keruh tetapi tetap mampu mekar indah dan menjaga kemurniannya. Ia juga menyebut Tesso Nilo bukan sekadar hutan, melainkan warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
Langkah dan pesan moral yang disampaikan Herymen mendapat apresiasi dari berbagai pihak, salah satunya dari Abduh Alfatih, Ketua Gerakan Hijau untuk Indonesia sekaligus pengurus PB PMII. Menurut Abduh, figur seperti Kapolda Riau perlu dilihat sebagai contoh bahwa kepemimpinan hari ini tidak cukup hanya bicara soal keamanan, tetapi juga harus punya keberpihakan nyata terhadap lingkungan.
“Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan atau Herymen telah menunjukkan bahwa menjaga keamanan daerah tidak bisa dilepaskan dari menjaga alamnya. Karena lingkungan yang rusak pada akhirnya juga melahirkan masalah sosial, konflik, kemiskinan ekologis, dan ancaman bagi masa depan masyarakat,” ujar Abduh Alfatih.
Abduh menilai, perhatian Herymen terhadap Tesso Nilo dan kelahiran Nona Seroja adalah pesan kuat bahwa konservasi tidak boleh hanya menjadi urusan aktivis lingkungan atau petugas kehutanan. Semua unsur bangsa, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, kampus, dan organisasi kepemudaan, harus bergerak bersama.
“Bagi kami, Herymen adalah role model pemimpin yang punya sensitivitas ekologis. Beliau tidak hanya hadir sebagai Kapolda, tetapi juga sebagai sosok yang memberi teladan bahwa mencintai alam adalah bagian dari mencintai kehidupan,” tegasnya.
Lebih jauh, Abduh menyebut filosofi Nona Seroja sangat relevan dengan kondisi lingkungan hari ini. Di tengah rusaknya sebagian ekosistem, masih ada harapan yang bisa tumbuh apabila manusia mau kembali menjaga, merawat, dan tidak serakah terhadap alam.
“Nona Seroja adalah simbol. Ia lahir membawa pesan bahwa alam masih memberi kita kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak boleh disia-siakan. Kalau hari ini kita gagal menjaga Tesso Nilo, maka yang hilang bukan hanya hutan, tetapi juga masa depan anak cucu kita,” katanya.
Gerakan Hijau untuk Indonesia, lanjut Abduh, mendorong agar semangat yang ditunjukkan Kapolda Riau dapat menjadi inspirasi nasional. Menurutnya, agenda konservasi harus ditempatkan sebagai agenda strategis bangsa, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Menjaga gajah Sumatera, menjaga hutan, menjaga sungai, dan menjaga ekosistem adalah bagian dari menjaga martabat bangsa. Kita butuh lebih banyak pemimpin seperti Herymen, yang berani memberi contoh bahwa pembangunan dan keamanan harus berjalan seiring dengan kelestarian alam,” ucap Abduh.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa dan organisasi kepemudaan, untuk tidak tinggal diam melihat persoalan lingkungan. Menurutnya, anak muda harus menjadi kekuatan moral yang ikut mengawal kebijakan lingkungan sekaligus turun langsung membangun kesadaran publik.
“Kelahiran Nona Seroja harus menjadi momentum. Jangan sampai kita hanya terharu saat seekor anak gajah lahir, tetapi lupa bergerak saat habitatnya terancam. Cinta lingkungan itu bukan slogan, melainkan tindakan,” tutup Abduh Alfatih.
Kelahiran Nona Seroja di Tesso Nilo akhirnya bukan hanya cerita tentang anak gajah baru. Ia adalah cerita tentang harapan, kepemimpinan, dan panggilan moral untuk menjaga alam sebelum semuanya terlambat.//Red




